ATHARI ANUGERAH KELANA

"kami hidup dari bumi untuk bumi sampai mati" HIMA TEKNIK GEOLOGI-UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN

Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2020 (4)
    • ▼  July (4)
      • GUNUNG API
      • KEKAR & SESAR
      • BATUAN SEDIMEN KIMIAWI DAN ORGANIK
      • SUNGAI & PANTAI

Report Abuse

FOCUSING ON GEOLOGICAL ENGINEERING

athari a.k
View my complete profile
  • Home
  • Home





 Pengertian Batuan Karbonat, Batuan Evaporit, dan Batuan
Organik (Batubara) dan contohnya (3)
 Batuan sedimen organik karbonat adalah batuan organik yang paling
dominan. Organisme yang menghasilkan batuan ini antara lain koral,
mollusca dan foraminifera. Mineral utama penyusun batuan batuan
sedimen karbonata adalah senyawa karbonat (CaCO3) berbentuk
kalsit. Misalnya batu gamping.

Batuan evaporit atau sedimen evaporit adalah batuan yang terbentuk
dari hasil proses penguapan (evaporation) air laut. Proses penguapan
air laut menjadi uap mengakibatkan tertinggalnya bahan kimia yang
pada akhirnya akan menghablur apabila hampir semua kandungan
air manjadi uap. Proses pembentukan garam dilakukan dengan cara
ini. Proses penguapan ini memerlukan sinar matahari yang cukup
lama. Contoh dari batuan ini ada calcide, gypsum, dan calcium
carbonate.

 Batuan sedimen organik atau yang disebut juga batuan sedimen
biogenic adalah batuan yang terbentuk dari pengendapan sisa-sisa
bagian tubuh mahluk hidup serta mineral-mineral yang
dihasilkannya. Batu bara merupakan batuan sedimen organik yang
mudah terbakar dan terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang telah
mati.
2. Jelaskan Proses pembentukan Batuan Evaporit
Batuan evaporit atau sedimen evaporit terbentuk sebagai hasil proses penguapan
(evaporation) air laut. Proses penguapan air laut menjadi uap mengakibatkan
tertinggalnya bahan kimia yang ada akhirnya akan menghablur apabila hampir
semua kandungan air manjadi uap. Proses pembentukan garam dilakukan dengan
cara ini. Proses penguapan ini memerlukan sinar matahari yang cukup lama.
3. Jelaskan Pembentukan Batubara
Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode Pembentukan
Karbon atau Batu Bara) – dikenal sebagai zaman batu bara pertama – yang
berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari setiap
endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan,
yang disebut sebagai „maturitas organik‟. Proses awalnya gambut berubah menjadi
lignite (batu bara muda) atau „brown coal (batu bara coklat)‟ – Ini adalah batu bara
dengan jenis maturitas organik rendah. Dibandingkan dengan batu bara jenis
lainnya, batu bara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari hitam pekat
sampai kecoklat-coklatan.
Mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, batu
bara muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas
organiknya dan mengubah batu bara muda menjadi batu bara „sub-bitumen‟.
Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih
keras dan warnanya lebh hitam dan membentuk „bitumen‟ atau „antrasit‟. Dalam
kondisi yang tepat, penigkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus
berlangsung hingga membentuk antrasit.
4. Jenis2 Batubara
Batubara lignit,
Mempunyai “banded”, berkekar, berwarna coklat hingga kehitaman, berat jenis
relatif rendah, daya serap cahaya relatif tinggi, sifat daya pantul cahaya relatif
rendah mudah hancur bila dikeringkan, serta mempunyai daya simpan energi panas
relatif rendah “low heating value”
Batubara sub-bitumen
Mempunyai “banded”, berwarna hitam, mempunyai kilap kusam – kilap lilin,
bersifat membelah (splits) sejajar terhadap perlapisan, masih menunjukkan adanya
struktur organik atau serat dan partikel organik lainnya, berat jenis relatif tinggi,
sifat reflaktan terhadap cahaya relatif tinggi, daya simpan energi panas masih relatif
rendah namun bersifat bersih “good clean fuel”
Batubara bitumen
Mempunyai “banded”, berwarna hitam, kilap terang “bright” seperti kaca, “well
jointed”, namun padat “dense”, tidak mudah hancur, berat jenis relatif tinggi, serta
daya serap energi panas tinggi.
5. Faktor Penentu Kualitas Batubara
Antrasit adalah kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan
(luster) metalik, mengandung antara 86% – 98% unsur karbon (C) dengan
kadar air kurang dari 8%.
 Bituminus mengandung 68 – 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-
10% dari beratnya. Kelas batubara yang paling banyak ditambang di
Australia.
 Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh
karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan
dengan bituminus.
 Lignit atau batubara coklat adalah batubara yang sangat lunak yang
mengandung air 35-75% dari beratnya.
 Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang
paling rendah.
6. Jelaskan Proses Pembentukan Batuan Karbonat
Batuan karbonat terbentuk melalui proses biologis, biokimia dan presipitasi
anorganik larutan CaCO3 di dalam suatu cekungan (Scoffin, 1987). Menurut
(Pirson, 1958), batuan karbonat terbentuk pada lingkungan laut dangkal, dimana
pada lingkungan tersebut tidak terjadi pengendapan material asal daratan. Hal ini
memungkinkan pertumbuhan organisme laut misalnya koral, ganggang, bryozoa,
7 dan sebagainya. Cangkang-cangkang dari organisme tersebut mengandung
mineral aragonit yang kemudian berubah menjadi mineral kalsit. Proses
pembentukan batuan karbonat akan terus berlangsung, bila keadaan laut relatif
dangkal. Hal ini dapat terjadi bila ada keseimbangan antara pertumbuhan organisme
dan penurunan dasar laut tempat terbentuknya batuan tersebut, sehingga dapat
menghasilkan batuan karbonat yang tebal. Sementara menurut (Landes, 1959),
selain dipengaruhi oleh lingkungan laut dangkal dan tanpa adanya pengendapan
material asal daratan, pembentukan batuan karbonat membutuhkan lingkungan
pengendapan dengan syarat-syarat khusus sebagai berikut:
1. Dasar laut yang relatif datar dan stabil.
2. Kedalaman laut yang dangkal.
3. Suhu air yang relatif hangat (± 38° C).
4. Ombak yang tidak begitu besar.
5. Tidak ada arus yang besar dan kuat.
6. Kegaraman air laut sekitar 13% (permil).
7. Perbedaan Aragonite, Dolomite, Dan Calcite
Perbedaan utamanya adalah jika aragonite merupakan batuan yang terbentuk
akibat proses kristalisasi magma, hal ini dapat dilihat dari ciri fisik dari mineral
berikut yaitu warna segar putih bening,warna lapuk putih, cerat putih. Lalu
Dolomite adalah mineral karbonat yang merupakan sedimentasi langsung dari air
laut yang belum dapat dibuktikan. Secara umum, dolomit berbentuk urat,
terbentuk bersama-sama dalam cebakan bijih. Dan kalsit merupakan mineral
ubahan aragonite.
8. Jelaskan Mengenai Dolomitisasi
Dolomitisasi adalah perubahan limestone secara parsial maupun keseluruhan
menjadi dolomit. Dolomit mempunyai komposisi CaMg(CO3) 2 dan secara
kristalografi serupa dengan kalsit, namun lebih besar densitasnya, sukar larut
dalam air, dan lebih mudah patah (brittle). Secara umum, dolomit lebih porous
dan permeable dibandingkan batugamping. Saat sedimen terakumulasi, mineral
yang kurang stabil mengkristal kembali atau terjadi rekristalisasi, menjadi yang
lebih stabil. Proses ini umumnya terjadi pada batu gamping terumbu yang porous.
Mineral aragonite (bahan struktur koral hidup), lama-kelamaan berekristalisasi
menjadi bentuk polimorfnya, kalsit.
9. Jelaskan Mengenai Mikritisasi
Mikritis adalah aktivitas organisme tertentu di dalam sedimen karbonat , di mana
organisme menarik nutrisi dari karbonat. Mikritis adalah proses yang berada di
bawah diagenesis sedimen.
Organisme dapat berupa ganggang , jamur atau bakteri . Organisme-organisme ini
memiliki "terowongan" kecil di kristal - kristal asli tempat terbentuknya klast.
Ketika micritisation berlangsung cukup lama, proses ini dapat membentuk amplop
mikritisasi di sekitar clast , terutama dengan clast yang lebih besar (seperti
fragmen shell).
Mikritis mengganggu struktur kristal asli, komposisi kimia, dan struktur klast
pada sedimen.
10. Jelaskan Mengenai Zona ACD dan CCD
Wilayah atau kedalaman dimana mineral aragonit mulai melarut pada kedalaman
sekitar 600 meter dan pada kedalaman sekitar 2000 meter merupakan zona dimana
aragonit tidak terbentuk lagi atau dikenal sebagai Aragonite Compensation Depth
(ACD).
Sedangkan mineral kalsit mulai melarut pada kedalaman sekitar 3000 meter dan
pada kedalaman sekitar 4200 meter tidak ditemukan lagi mineral karbonat atau
disebut Calcite Compensation Depth (CCD).
11. Jel.Faktor Pendukung Tumbuhnya Karbonat/Reef
a. Suhu Perairan
Karang dapat hidup pada suhu perairan di atas 18oC. Suhu ideal untuk pertumbuhan
karang berkisar antara 27-29°C. Adanya kenaikan suhu air laut di atas suhu
normalnya, akan menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) sehingga warna
karang menjadi putih. Bila hal tersebut berlanjut hingga beberapa minggu, akan
menyebabkan kematian. Adanya pengaruh suhu untuk pertumbuhan karang
menyebabkan penyebaran karang hanya terjadi pada daerah subtropis dan tropis,
yaitu pada sekitar 30oLU – 30o LS.
b. Cahaya Matahari
Karang hidup bersimbiosis dengan alga zooxanthellae, yang hidup di dalam
jaringan karang sehingga memerlukan cahaya matahari untuk proses fotosintesis.
Oleh karena itu, karang sulit tumbuh dan berkembang pada kedalaman dimana
penetrasi cahaya sangat kurang, biasanya pada kedalaman lebih dari 50 m.
c. Salinitas
Salinitas ideal bagi pertumbuhan adalah berkisar antara 30-36 Air tawar dengan
salinitas rendah dapat membunuh karang.
Oleh karena itu karang tidak dijumpai di sungai ataupun muara
sungai yang memiliki salinitas yang rendah.
d. Sedimentasi
Butiran sedimen dapat menutupi polip karang, dan bila
berlangsung lama bisa menyebabkan kematian karang. Oleh
karena itu, karang tidak dijumpai pada perairan yang tingkat
sedimentasinya tinggi.
e. Kualitas perairan
Perairan yang tercemar, baik yang diakibatkan karena limbah
industri maupun rumah tangga (domestik) akan mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan karang. Perairan dapat saja
menjadi keruh dan kotor karena limbah pencemar, ataupun penuh
dengan sampah. Bahan pencemar tentu saja akan berpengaruh
langsung terhadap pertumbuhan karang, sedangkan perairan
Karang jenis Cycloseris yang merupakan karang dari familiFungiidae yanghidup
soliter.
yang keruh dapat menghambat penetrasi cahaya ke dasar
perairan sehingga mengganggu proses fotosintesis pada
zooxanthellae yang hidup bersimbiosis dengan karang.
6. Arus dan sirkulasi air laut
Arus dan sirkulasi air diperlukan dalam penyuplaian makanan
yang diperlukan dalam proses pertumbuhan karang dan suplai
oksigen dari laut lepas. Selain itu, arus dan sirkulasi air juga
berperan dalam proses pembersihan dari endapan material yang
menempel pada pada polip karang. Tempat dengan arus dan
ombak yang tidak terlalu besar merupakan tempat yang ideal
untuk pertumbuhan karang. Tempat dengan arus dan ombak
yang besar dapat mengganggu pertumbuhan karang, misalnya
pada daerah-daerah terbuka yang langsung menghadap ke laut
lepas, dengan ombak yang selalu besar sepanjang masa.
7. Substrat
Larva karang yang disebut planula memerlukan substrat yang
keras dan stabil untuk menempel, hingga tumbuh menjadi
karang dewasa. Substrat yang labil, seperti pasir akan sulit bagi
planula untuk menempel.
12. Jelaskan Zonasi Reef (Lingkungan Pengendapan batuan karbonat) dan
Batuan karbonat yang terbentuk
Berdasarkan pemodelan Polmar tersebut ada 4 lingkungan pengendapan
karbonat yaitu :
12.1. Back Reef Lagoon
Lagoon adalah suatu tempat yang dibatasi oleh pembatas, area
dengan energi yang endah dibelakang reef crest / reef core. Tidak semua reef
memiliki lagoon, untuk jika reef rim tidak berkelanjutan, sirkulasi lebih
terbuka akan hadir dan back reef akan mempunyai aspek dari sebuah open
shelf atau bay. Dibeberapa sistem patch reef mungkin dipisahkan oleh fasies
inter-reef dari karakter yang lebih ke open marine, dari pembatasnya,
endapan lagoonal. Lagoonal memiliki variasi ukuran, secara relatif dari kecil
berkembang didalam atol hingga besar zona di belakang barier reef utama.
Dicirikan oleh endapan mudstone dan wackestone dengan lapisan yang
horisontal dan dibatasi dengan erosional pada permukaannya, mengandung
fosil berupa moluska, miliolid, ostracoda, stromatolit dan mangrove serta
sering juga terdapat sea grass bagian ini sering disebut inner back reef
lagoon. Sementara pada bagian outer back reef lagoon dicirikan dengan
endapan skeletal grainstone dan packstone dengan dominasi koral, fosil
yang sering dijumpai berupa koral, moluska, foraminifera, alga merah,
rhodolite, echinodermata, cacing, dan halimeda, dan terdapat juga pellet.
12.2. Reef Core
Reef core merupakan endapan yang tertinggi (puncak reef) hampir
tersingkap ke permukaan dan merupakan diperlakukan pada aktivitas
gelombang. Hasil morfologi reef dan komposisinya bergantung pada
rezim energi yang berkembang. Pada energi yang tinggi dominasi
encrusting organism khususnya low encrusting growths of coralline algae.
Pada energi yang rendah sering ditemukan hydrozoan atau robust coral.
Dicirikan oleh endapan kerangka koral (boundstone) dengan skeletal
grainstone dan packstone, endapan berbentuk sigmnoidal, fosil yang sering
dijumpai koral, alga merah, foraminifera, bryozoa, cacing, moluska.
Fore Reef / Fore Reef - slope
Merupakan morfologi yang berkembang dari reef core, membentuk
lereng kira- kira 5 – 100 dan 10 – 300. Dicirikan dengan endapan skeletal
kasar seperti packstone dan wackestone, terkadang juga didominasi oleh
endapan gravitasi dan sedimen pelagik. Kehadiran fosil seringkali berupa
pecahan koral, moluska, rhodolit, alga merah, biostrome, halimeda dan,
foram plankton.
Off Reef / Open Shelf
Morfologi hampir datar seperti halnya back reef lagoon, endapan
yang sering dijumpai adalah endapan halus seperti packstone dan
wackestone, dan endapan kasar seperti packstone dan grainstone. Endapan
horisontal dan sedikit sekali dijumpai bioturbasi, fosil yang sering dijumpai
adalah foram plankton, oyster laut dalam, echinodermata, pectinid, rhodolit,
pecahan alga merah, dan koral.
13. Jelaskan Komponen Batuan Karbonat (Grain, Matriks, Semen)
13.1. Butiran atau grain
Adalah semua komponen dalam batuan karonat yang berkomposisi
kalsium karbonat (CaCO3) baik yang berasal dari proses biologi seperti
terumbu maupun dari proses biokimia. Butiran ini merupakan komponen
yang menunjukkan kesan berbutir dengan batas-batas antar butir.
Komponen tersebut dapat berupa hasil rombakan batuan karbonat itu sendiri
atau batuan karbonat yang telah terbentuk sebelumnya (luar lingkungan
pengendapan), fragmen-fragmen organisme ataupun hasil aktifitas
organisme dan presipitasi mineral-mineral karbonat atau hasil diagenesis.
Jika dianalogikan terhadap batuan silisiklastik, butiran merupakan fragmen
yang berada dalam massa matriks dan semen. Butiran dibagi menjadi dua
kelompok yaitu yang berasal dari organisme atau skeletal dan yang berasal
dari non-organisme atau non-skeletal.
13.1.1. Skeletal
Adalah komponen batuan karbonat yang berasal dari organisme baik
dalam bentuk utuh maupun berupa fragmental. Komponen tersebut
merupakan penyusun batuan karbonat yang umum dijumpai. Komponen ini
dapat berupa organisme utuh (dikenal dengan fosil) atau sebagai fragmenfragmen
organisme. Jenis organisme yang bertindak sebagai komponen
skeletal dalam batuan karbonat bervariasi sepanjang sejarah geologi.
Penyusun batuan karbonat dalam hal ini diambil referensi adalah terumbu
mulai dari kala Paleozoikum hingga Kenozoikum
13.1.2. Non-Skeletal
Komponen Non-skeletal adalah material penyusun batuan karbonat
yang berasal dari non organisme. Material tersebut terakumulasi pada suatu
cekungan atau lingkungan pengendapan dengan proses yang berbeda-beda.
Komponen-komponen tersebut adalah lithoklas (intraklas
dan ekstraklas), ooids, peloids dan coated grain. Sedangkan yang berasal
dari organisme dengan proses tertentu misalnya onkoliths, rhodoliths.
13.2. Matriks
Adalah komponen batuan karbonat yang secara teoritis berukuran
halus (<4 mm). Matriks atau mikrit (Folk, 1962) atau mud (Dunham, 1962)
adalah komponen batuan karbonat yang terbentuk bersama butiran dan
bertindak sebagai matriks. Komponen ini sangat umum dijumpai dalam
batuan karbonat dan diinterpretasi terbentuk pada lingkungan berenergi
rendah. Matriks harus dibedakan dengan mikrit yang terbentuk melalui
proses diagenesis (mikritisasi). Mikrit yang terbentuk dengan proses
tersebut bisa berasal dari komponen lain seperti butiran atau semen. Jika
dianalogikan dengan batuan sedimen silisiklastik, matriks disamakan
dengan lempung yang terendapkan pada lingkungan berenergi rendah.
Konsekwensinya adalah warnanya menjadi relatif lebih gelap baik dalam
bentuk outcrop (Gambar 2.17B) maupun dalam bentuk sayatan tipis
13.3. Semen
Adalah komponen batuan karbonat yang mengisi pori-pori dan
merupakan hasil diagenesis atau hasil presipitasi dalam pori batuan dari
batuan yang telah ada. Semen sering disamakan dengan sparit hasil
neomorphisme, padahal sparit hasil neomorphisme adalah perubahan
(rekristalisasi) dari komponen karbonat yang telah ada. Beberapa jenis
semen yang dikenal dalam batuan karbonat moderen adalah fibrous,
botroidal, isophaceous, mesh of needles dll . Jenis semen tersebut tergantung
pada lingkungan pembentuk semen yang dikenal sebagai lingkungan
diagenesis. Penjelasan lebih lengkap tentang semen dibahas pada bab
diagenesis batuan karbonat.Kenampakan lapangan dari semen adalah
bening seprti kaca, sedangkan dibawah mikroskop memperlihatkan warna
tranparan. Semen dapat terbentuk pada ruang antar komponen dan dapat
juga terbentuk pada ruang dalam komponen atau ruang hasil pelarutan.
Jenis Organic Framework dalam Batuan karbonat
Biolitik dalam artian adalah bio yang berarti hidup dan litik berarti
batu. Biolitik dapat diartikan sebagai batuan yang tersusun dari sisa
organisme yang hidup/hasil aktivitas organisme. Biolitik dapat berupa fosil
hewan maupun tumbuhan. Sketsa organsime yang hidup sekarang berupa
algae, koral, dan sponge.
Tekstur dan Struktur Batuan Karbonat
Tekstur pada batuan karbonat bervariasi, mulai dari tekstur yang terdapat
pada batuan detritus seperti besar butir, pemilahan, dan rounding, hingga
yang menunjukkan hasil pengendapan kimiawi.

Struktur
Struktur-struktur sedimen tersebut antara lain lapisan silang-siur, laminasi,
lapisan lenticular, laminasi konvolut, flame structure, load cast, flute cast,
dan mudcracks, begitu juga terdapat trace fossil seperti track, trail, dan
burrow (Demicco dan Hardie, 1994). Batuan karbonat juga dapat
mengandung stromatolites dan struktur cryptoalgal dan struktur yang tidak
begitu umum seperti struktur teepe(struktur sedimen menyerupai bentuk
busur atau polygon terbalik), solution cavities, dan stromatactis (masa kalsit
sparry dan sedimen internal berbentuk irregular mulai dari berbentuk
elongate hingga globose).

Klasifikasi (Grabau 1904, Folk 1959, Dunham 1963, Embry and
Klovan 1971, Wright 1992)

Klasifikasi Grabau didasarkan pada karakteristik sederhana
dari suatu batugamping atau batuan karbonat, yaitu ukuran
butir penyusunnya (lihat tabel dibawah). Konsep dari
klasifikasi ini didasarkan pada metode umum seperti yang
digunakan pada klasifikasi batuan sedimen klastik.

Klasifikasi ini mendasarkan pada konsep maturitas
tekstur dari batuan karbonat, yang melibatkan jenis
komposisi batuan tersebut). Perkembangan klasifikasi
ini dikarenakan analisa petrografi pada batugamping
untuk menentukan lingkungan pengendapan
membutuhkan dasar klasifikasi lain yang lebih
spesifik. Dengan mengetahui fabrik dari batuan
tersebut dapat diinterpretasikan tingkat energi dari
pengendapan sedimen (Tucker, 1990).

Klasifikasi ini didasarkan pada fabrik batuan, tekstur,
proporsi kandungan mud dalam batuan, dan kerangka
penyusun batuan baik secara mekanik maupun biologi.
Pada klasifikasi ini, perbedaan penting mengenai
tingkat energi pengendapan tiap jenis batuan sangat
jelas teramati karena lebih detail. Perbedaan
klasifikasi ini dengan klasifikasi sebelumnya adalah
pertimbangan terhadap batuan hasil proses biologi dan
pengertian dari micrite yakni material karbonat yang
berukuran < 20μm (Tucker, 1990).

Klasifikasi ini didasarkan pada karakteristik yang sama
dengan klasifikasi Dunham yakni fabrik batuan, tekstur,
proporsi kandungan mud dalam batuan, dan kerangka
penyusun batuan baik secara mekanik maupun biologi.
Boundstone sebagai hasil kerangka organik dari koloni
koral dibagi menjadi beberapa penamaan berdasarkan
jenis organisme yang menyusunnya. Dengan
menggunakan kombinasi tekstur dan komposisi,
klasifikasi ini dapat memberikan informasi mengenai
kondisi pembentukan batuan tersebut (Tucker, 1990).

17. Mengapa Semen menghindari batugamping dengan komposisi Mg
yang tinggi
Batu gamping merupakan bahan galian jenis mineral
industri yang tersusun oleh kalsium karbonat (CaCo3) dan
mengandung unsur lain, diantaranya magnesium. Salah satu hal
penting yang harus diketahui dalam menganalisis adalah
adanya keterdapatan unsur Ca dan Mg. Bila kadar Ca tinggi dan
Mg rendh berarti kualitasnya baik, sebaliknya bila kadar Ca
rendah dan kadar Mg tinggi maka kualitasnya buruk. Kadar Mg
yang tinggi akan mengganggu proses pengerasan, karena unsur
Mg tidak dapat terikat dengan unsur lain dalam semen.
Batugamping mengandung CaO lebih dari 50% (persen berat)
sangat baik digunakan sebagai bahan bangunan, dalam bentuk
semen.




1.      Pengertian Sungai dan tahapan perkembangan sungai
Sungai atau kali (Inggris: river) adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara).
Tahapan perkembangan suatu sungai dapat dibagi menjadi 5 (tiga) stadia, yaitu stadia sungai awal, satdia muda, stadia dewasa, stadia tua, dan stadia remaja kembali (rejuvination). Adapun ciri-ciri dari tahapan sungai adalah sebagai berikut:
1.   Tahapan Awal (Initial Stage). 
Tahap awal suatu sungai seringkali dicirikan oleh sungai yang belum memiliki orde dan belum teratur seperti lazimnya suatu sungai. Air terjun, danau, arus yang cepat dan gradien sungai yang bervariasi merupakan ciri-ciri sungai pada tahap awal. Bentangalam aslinya, seringkali memperlihatkan ketidakteraturan, beberapa diantaranya berbeda tingkatannya, arus alirannnya berasal dari air runoff ke arah suatu area yang masih membentuk suatu depresi (cekungan) atau belum membentuk lembah. Sungai pada tahapan awal umumnya berkembang di daerah dataran pantai (coastal plain) yang mengalami pengangkatan atau diatas permukaan lava yang masih baru / muda dan gunungapi, atau diatas permukaan pediment dimana  sungainya  mengalami peremajaan (rejuvenation).
2.   Tahapan Muda.
Sungai yang termasuk dalam tahapan muda adalah sungai-sungai yang aktivitas aliran sungainya mengerosi kearah vertikal. Aliran sungai yang menmpati seluruh lantai dasar suatu lembah. Umumnya profil lembahnya membentuk seperti huruf ”V”. Air terjun dan arus yang cepat mendominasi pada tahapan ini.
3.   Tahapan Dewasa
Tahap awal dari sungai dewasa dicirikan oleh mulai adanya pembentukan dataran banjir secara setempat setempat dan semakin lama semakin lebar dan akhirnya terisi oleh aliran sungai yang berbentuk meander, sedangkan pada sungai yang sudah masuk dalam tahapan dewasa, arus sungai sudah membentuk aliran yang berbentuk meander, penyisiran kearah depan dan belakang memotong suatu dataran banjir (flood plain) yang cukup luas sehingga secara keseluruhan ditempati oleh jalur-jalur meander. Pada tahapan ini aliran arus sungai sudah memperlihatkan keseimbangan antara laju erosi vertikal dan erosi lateral dan profil sungainya sudah berubah dari bentuk ”V” kebentuk ”U”. 
4. Tahapan Tua. 
Pada tahapan ini dataran banjir diisi sepenuhnya oleh meander dan lebar dari dataran banjir akan beberapa kali lipat dari luas meander belt. Sungai pada tahapan ini dicirikan oleh arah erosi lateral yang dominan serta banyaknya rawa-rawa. Profil sungai pada sungai tahapan tua membentuk seperti huruf ”U”.  
5.  Peremajaaan Sungai (Rejuvenation)       
Setiap saat dari perkembangan suatu sungai dari satu tahap ke tahap lainnya, perubahan mungkin terjadi dimana kembalinya dominasi erosi vertikal sehingga sungai dapat diklasifikasi menjadi sungai dalam tahapan muda. Sungai dewasa dapat mengalami pengikisan kembali ke arah vertikal untuk kedua kalinya karena adanya pengangkatan dan proses ini disebut dengan perenajaan sungai. Proses peremajaan sungai adalah proses terjadinya erosi ke arah vertikal pada  sungai  berstadia dewasa akibat pengangkatan dan stadia sungai kembali menjadi stadia muda.

2.      Tipe tipe genetik sungai
Sebagaimana diketahui bahwa klasifikasi genesa sungai ditentukan oleh hubungan struktur perlapisan batuannya. Genetika sungai dapat dibagi sebagai berikut:
a. Sungai Superposed atau sungai Superimposed, adalah sungai yang terbentuk diatas permukaan bidang struktur dan dalam perkembangannya erosi vertikal sungai memotong ke arah bagian bawah hingga sampai memotong bidang struktur dibawahnya agar supaya sungai dapat mengalir ke bagian yang lebih rendah. Dengan kata lain sungai superposed adalah sungai yang berkembang belakangan dibandingkan dengan pembentukan struktur batuannya. 
b. Sungai Antecedent, adalah sungai yang lebih dulu ada dibandingkan dengan keberadaan struktur batuannya dan dalam perkembangannya air sungai mengikis hingga ke bagian struktur yang ada dibawahnya. Pengikisan ini dapat terjadi karena erosi arah vertikal lebih intensif dibandingkan arah lateral.      
c. Sungai Konsekuen, adalah sungai yang berkembang dan mengalir searah lereng topografi aslinya. Sungai konsekuen sering diasosiasikan dengan kemiringan asli dan struktur lapisan batuan yang ada dibawahnya. Selama tidak dipakai sebagi pedoman, bahwa asal dari pembentukan sungai konsekuen adalah didasarkan atas lereng topografinya bukan pada kemiringan lapisan batuannya.  
d. Sungai Subsekuen, adalah sungai yang berkembang disepanjang suatu garis atau zona yang resisten. sungai ini umumnya dijumpai mengalir disepanjang jurus perlapisan batuan yang resisten terhadap erosi, seperti lapisan batupasir. Mengenal dan memahami genetika sungai subsekuen seringkali  dapat membantu dalam penafsiran geomorfologi. 
e. Sungai Resekuen. Lobeck (1939) mendefinisikan sungai resekuen sebagai sungai yang mengalir searah dengan arah kemiringan lapisan batuan sama seperti tipe sungai konsekuen. Perbedaanya adalah sungai resekuen berkembang belakangan. 
f. Sungai Obsekuen. Lobeck juga mendefinisikan sungai obsekuen sebagai sungai yang mengalir berlawanan arah terhadap arah kemiringan lapisan dan berlawanan terhadap sungai konsekuen. Definisi ini juga mengatakan bahwa sungai konsekuen mengalir searah dengan arah lapisan batuan. 
g. Sunggai Insekuen adalah aliran sungai yang mengikuti suatu aliran dimana lereng tifdak dikontrol oleh faktor kemiringan asli, struktur atau jenis batuan.

3.      Pengertian Daerah Aliran Sungai
Setiap pola aliran mempunyai daerah pengumpulan air yang dikenal sebagai “daerah aliran sungai” atau disingkat sebagai DAS atau “drainage basin” . Setiap DAS dibatasi dari DAS disebelahnya oleh suatu tinggian topografi yang dinamakan pemisah aliran (drainage divide). Dengan digerakkan oleh gayaberat, air hujan yang jatuh dimulai dari daerah pemisah aliran akan mengalir melalui lereng sebagai lapisan lebar berupa air-bebas dengan ketebalan hanya beberapa Cm saja yang membentuk alur-alur kecil. Dari sini air akan bergabung dengan sungai baik melalui permukaan atau sistim air bawah permukaan.
4.      Pola Aliran Sungai
Dengan berjalannya waktu, suatu sistem jaringan sungai akan membentuk pola pengaliran tertentu diantara saluran utama dengan cabang-cabangnya dan pembentukan pola pengaliran ini sangat ditentukan oleh faktor geologinya. Pola pengaliran sungai dapat diklasifikasikan atas dasar bentuk dan teksturnya. Bentuk atau pola berkembang dalam merespon terhadap topografi dan struktur geologi bawah permukaannya.  Saluran-saluran sungai berkembang ketika air permukaan (surface runoff) meningkat dan batuan dasarnya kurang resisten terhadap erosi. 

Sistem fluviatil dapat menggambarkan perbedaan pola geometri dari jaringan pengaliran sungai. Jenis pola pengaliran sungai antara alur sungai utama dengan cabang-cabangnya disatu wilayah dengan wilayah lainnya sangat bervariasi. Adanya perbedaan pola pengaliran sungai disatu wilayah dengan wilayah lainnya sangat ditentukan oleh perbedaan kemiringan topografi, struktur dan litologi batuan dasarnya. Pola pengaliran yang umum dikenal adalah sebagai berikut: 
 
1. Pola Aliran Dendritik
Pola aliran dendritik adalah pola aliran yang cabang-cabang sungainya menyerupai struktur pohon. Pada umumnya pola aliran sungai dendritik dikontrol oleh litologi batuan yang homogen. Pola aliran dendritik dapat memiliki tekstur/kerapatan sungai yang dikontrol oleh jenis batuannya. Sebagai contoh sungai yang mengalir diatas batuan yang tidak/kurang resisten terhadap erosi akan membentuk tekstur sungai yang halus (rapat) sedangkan pada batuan yang resisten (seperti granit) akan membentuk tekstur kasar (renggang). Tekstur sungai didefinisikan sebagai panjang sungai per satuan luas. Mengapa demikian ? Hal ini dapat dijelaskan bahwa resistensi batuan terhadap erosi sangat berpengaruh pada proses pembentukan alur-alur sungai, batuan yang tidak resisten cenderung akan lebih mudah di-erosi membentuk alur-alur sungai. Jadi suatu sistem pengaliran sungai yang mengalir pada batuan yang tidak resisten akan membentuk pola jaringan sungai yang rapat (tekstur halus), sedangkan sebaliknya pada batuan yang resisten akan membentuk tekstur kasar. 

2. Pola Aliran Radial
Pola aliran radial adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara radial dari suatu titik ketinggian tertentu, seperti puncak gunungapi atau bukir intrusi. Pola aliran radial juga dijumpai pada bentuk-bentuk bentangalam kubah (domes) dan laccolith. Pada bentangalam ini pola aliran sungainya kemungkinan akan merupakan kombinasi dari pola radial dan annular.  

3. Pola Aliran Rectangular
Pola rectangular umumnya berkembang pada batuan yang resistensi terhadap erosinya mendekati seragam, namun dikontrol oleh kekar yang mempunyai dua arah dengan sudut saling tegak lurus. Kekar pada umumnya kurang resisten terhadap erosi sehingga memungkinkan air mengalir dan berkembang melalui kekar-kekar membentuk suatu pola pengaliran dengan saluran salurannya lurus-lurus mengikuti sistem kekar. 

Pola aliran rectangular dijumpai di daerah yang wilayahnya terpatahkan. Sungai-sungainya mengikuti jalur yang kurang resisten dan terkonsentrasi di tempat tempat dimana singkapan batuannya lunak. Cabang-cabang sungainya membentuk sudut tumpul dengan sungai utamanya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola aliran rectangular adalah pola aliran sungai yang dikendalikan oleh struktur geologi, seperti struktur kekar (rekahan) dan sesar (patahan). Sungai rectangular dicirikan oleh saluran-saluran air yang mengikuti pola dari struktur kekar dan patahan.

4. Pola Aliran Trellis
Geometri dari pola aliran trellis adalah pola aliran yang menyerupai bentuk pagar yang umum dijumpai di perkebunan anggur. Pola aliran trellis dicirikan oleh sungai yang mengalir lurus disepanjang lembah dengan cabang-cabangnya berasal dari lereng yang curam dari kedua sisinya. Sungai utama dengan cabang-cabangnya membentuk sudut tegak lurus sehingga menyerupai bentuk pagar. Pola aliran trellis adalah pola aliran sungai yang berbentuk pagar (trellis) dan dikontrol oleh struktur geologi berupa perlipatan sinklin dan antilin. Sungai trellis dicirikan oleh saluran-saluran air yang berpola sejajar, mengalir searah kemiringan lereng dan tegak lurus dengan saluran utamanya. Saluran utama berarah se arah dengan sumbu lipatan. 

5.   Pola Aliran Centripetal 
Pola aliran centripetal merupakan ola aliran yang berlawanan dengan pola radial, dimana aliran sungainya mengalir kesatu tempat yang berupa cekungan (depresi). Pola aliran centripetal merupakan pola aliran yang umum dijumpai di bagian barat dan baratlaut Amerika, mengingat sungai-sungai yang ada mengalir ke suatu cekungan, dimana pada musim basah cekungan menjadi danau dan mengering ketika musin kering. Dataran garam terbentuk ketika air danau mengering.

6.   Pola Aliran Annular
Pola aliran annular adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara radial dari suatu titik ketinggian tertentu dan ke arah downstream aliran kembali bersatu. Pola aliran annular biasanya dijumpai pada morfologi kubah atau intrusi loccolith. 

7.   Pola Aliran Paralel (Pola Aliran Sejajar) 
Sistem pengaliran paralel adalah suatu sistem aliran yang terbentuk oleh lereng yang curam/terjal. Dikarenakan morfologi lereng yang terjal maka bentuk aliran-aliran sungainya akan berbentuk lurus-lurus mengikuti arah lereng dengan cabang-cabang sungainya yang sangat sedikit. Pola aliran paralel terbentuk pada morfologi lereng dengan kemiringan lereng yang seragam. Pola aliran paralel kadangkala meng-indikasikan adanya suatu patahan besar yang memotong daerah yang batuan dasarnya terlipat dan kemiringan yang curam. Semua bentuk dari transisi dapat terjadi antara pola aliran trellis, dendritik, dan paralel.

5.      Orde sungai berdasarkan horton (1945), strahler (1952) dan shreve (1967)
Orde sungai adalah tingkatan suatu segmen sungai dalam suatu DAS. Banyak ahli telah menentukan cara pemberian nilai orde suatu sungai seperti Horton (1945), Strahler (1952), dan Shreve (1967).
Menurut Horton (1945), segmen yang tidak memiliki percabangan merupakan orde pertama. Namun tidak semua segmen diberi keterangan orde, hanya salah satu di antara percabangan. Ketika dua segmen – satu bergabung, maka akan menjadi orde – dua. Dua orde – dua bergabung akan menjadi orde – tiga. Metode Strahler merupakan modifikasi dari metode Horton.
Menurut Strahler (1952), segmen yang tidak memiliki percabangan merupakan orde pertama. Ketika dua segmen orde-pertama bergabung, maka akan terbentuk orde kedua. Dua segmen orde – dua akan membentuk orde – tiga. Dua orde – tiga akan membentuk orde – empat, dan seterusnya. Setiap segmen dapat ditempel oleh orde dengan nilai yang lebih kecil namun tidak akan merubah atau meningkatkan nilai ordenya.
Sedangkan metode Shreve (1967), setiap segmen yang bertemu akan menambah nilai orde selanjutnya. Metode Shreve sering digunakan dalam penelitian geomorfologi untuk mencari hubungan antara hujan dan air permukaan. Karena orde pertama sungai berfungsi sebagai pengumpul utama air hujan dalam suatu cekungan. Dengan menggunakan metode Shreve, perkiraan akan aliran banjir akan lebih mudah diketahui daripada penggunaan metode Strahler.

6.      Morfologi Bentukan Sungai
Morfologi sungai adalah bentuk bentuk bentangalam yang terbentuk oleh aktivitas dan proses fluviatil. Material material yang berukuran pasir kasar hingga kerikil akan terakumulasi disepanjang saluran sungai, yaitu disepanjang aliran air yang terdalam atau disepanjang aliran/arus yang terkuat karena pada kecepatan arus yang tinggi butiran-butiran sedimen yang lebih halus akan terbawa arus. Endapan material tersebut dikenal sebagai Gosong Pasir (Bar). Ke arah bagian tepi saluran sungai, kecepatan arus melemah dan butiran-butiran material yang lebih halus akan terakumulasi dan terendapkan sebagai endapan Tekuk Sungai (Point bar). Selama banjir, dataran banjir akan digenangi air yang memungkinkan butiran-butiran sedimen yang lebih halus diendapkan dan semakin jauh dari alur sungai butiran sedimen yang diendapkan semakin halus lagi, daerah dataran banjir dikenal sebagai bentangalam Dataran Banjir (Flood plain). Kebanyakan dari daerah dataran banjir tersusun dari endapan pasir dan lumpur, sedangkan pasir yang kasar diendapkan ditepi saluran sungai utama dan dikenal sebagai Tanggul-alam (Levees), yaitu akumulasi endapan yang sejajar dengan arah saluran sungai.

1.    Morfologi Kipas Aluvial (Alluvial Fan) Morfologi Kipas Aluvial adalah bentangalam yang menyerupai bentuk kipas, umumnya terbentuk dibagian kaki lereng suatu perbukitan dan biasanya berada di  daerah yang beriklim arid. Kipas alluvial terbentuk pada sungai yang mengalir dari suatu  berbukitan dengan gradien lereng yang curam ke arah lereng yang landai dari suatu dataran dan material material lepas yang diangkut oleh air sungai diendapkan.

2.    Morfologi Sungai Bersirat (Braided-streams) Morfologi Sungai Bersirat merupakan bentuk bentangalam hasil dari proses pengendapan yang disebabkan  oleh saluran air sungai yang berpindah-pindah. Sungai teranyam umunya berkembang di daerah tekuk lereng dan terjadi karena adanya perubahan kecepatan arus dari arah lereng yang  kuat berubah menjadi lambat ketika sampai kemedan yang relatif datar. Hal ini yang membuat saluran air selau berpindah pindah sesuai dengan perkembangan arusnya.  

3.    Morfologi Tekuk Sungai (Pointbar Rivers) Morfologi Point Bar adalah bentuk bentangalam yang berada pada kelokan sungai bagian dalam yang merupakan hasil pengendapan sungai pada bagian dalam dari suatu kelokan sungai (meander).  

4.    Morfologi Danau Tapal Kuda (Oxbow Lake) Morfologi Danau Tapal Kuda adalah bentangalam yang berupa danau yang bentuknya menyerupai tapal kuda. Bentuk tapal kuda berasal saluran air sungai yang telah ditinggalkan dikarenakan terjadinya pemotongan meander sungai. Akibat dari pemotongan ini menyebabkan meander terisolasi dari saluran utamanya dan pada akhirnya membentuk danau.  

5.    Morfologi Gosongpasir (Bar rivers) Morfologi Gosongpasir merupakan bentangalam yang berbentuk daratan disepanjang suatu saluran sungai sebagai hasil pengendapan material yang diangkut sungai. Pengendapan yang terjadi di tengah saluran sungai disebabkan oleh ukuran dan masa jenis material yang diangkut air sungai dengan kecepatan arus air. Ketika kecepatan arus air melemah maka material sedimen yang bermasa jenis lebih besar akan diendapkan didalam saluran yang pada akhirnya akan membentuk daratan.     

6.    Morfologi Undak Sungai (Terrace Rivers) Morfologi Undak Sungai terjadi oleh erosi vertikal yang lebih dominan dibandingkan erosi lateral. Undak undak sungai dapat terjadi pada sungai yang mengalami pengangkatan kembali sehingga gaya erosi vertikal kembali bekerja.  Undak sungai tersusun dari endapan aluvial yang membentuk morfologi datar.

7.    Morfologi Tanggul Alam (Levee)   Morfologi Tanggul Alam adalah bentangalam yang berbentuk tanggul dan sejajar dengan arah saluran sungai, merupakan akumulasi dari endapan material berbutir kasar saat air sungai melimpah keluar saluran.






7.      Pengertian Pantai
Wilayah Pesisir adalah suatu wilayah yang berada pada batas antara daratan dan lautan dan merupakan tempat pertemuan antara energi dinamis yang berasal dari daratan dan lautan. Dengan demikian wilayah pesisir merupakan wilayah yang dipengaruhi oleh proses-proses erosi, abrasi, sedimentasi, penurunan (submergence), dan pengangkatan (emergence). 

8.      Pembagian zona pantai
a.       Zona Litoral atau Wilayah Pasang Surut
Pembagian zona kedalaman laut yang pertama adalah zona litoral. Zona litoral juga dikenal sebagai wilayah pasang surutnya. Yang dimaksud dengan zona litoral adalah wilayah laut yang dapat tergenang oleh air apabila kondisi laut sedang mengalami pasang (baca: manfaat pasang surut air laut). Namun ketika air laut surut, maka wilayah atau zona litoral ini berubah menjadi pantai (baca: manfaat pantai). Maka dari itulah mengapa wilyah ini disebut sebagai zona pasang surut. Pengaruh suhu udara beserta sinar matahari  (baca: lapisan matahari) yang terdapat pada zona sangatlah kuat. Zona litoral menjadi habitat bagi beberapa spesies laut, yakni berupa binatang maupun tumbuh- tumbuhan seperti bintang laut, udang, kepiting, cacing beserta bentos. Beberapa dari binatang tersebut merupakan binatang yang bisa dimakan. Zona Litoral ini bisa dikatakan sebagai wilayah yang paling atas ataupun yang paling dekat dengan pantai (baca: ekosistem pantai) ataupun daratan. zona litoral ini juga disebut sebagai jalur pasang, yakni bagian cekungan lautan yang terletak diantara air pasang dan juga air surut. Zona litoral sering disebut juga sebagai pesisir pantai yang terdiri dari pasir pantai dan pecahan rumah- rumah karang.

b.      Zona Neritik atau Wilayah Laut Dangkal
Daerah yang lebih dalam dari zona litoral adalah zona neritik. Zona neritik ini disebut juga sebagai wilayah laut dangkal. Disebut sebagai wilayah laut dangkal (baca: ekosistem laut dalam dan dangkal), karena wilayah ini mempunyai kedalaman hanya antara 50 hingga 200 meter. Zona neritik adalah wilayah perairan dangkal yang letaknya dekat dengan pantai. Kawasan zona neritik ini merupakan zona yang dapat ditembus oleh sinar matahari dengan sangat baik. Karena tertembus oleh sinar matahari dengan sangat baik, maka zona neritik ini dijadikan sebagai habitat yang sangat cocok bagi berbagai jenis spesies laut, seperti ubur- ubur, fitoplankton, zooplankton, rumput laut dan lain sebagainya. Zona neritik ini juga merupakan tempat dimana banyak jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan. Beberapa faktor yang menyebabkan banyak ikan di zona ini antara lain adalah:

Perairannya banyak mengandung oksigen
Banyak terdapat plankton- plankton yang mengapung di permukaan air
Banyak mendapatkan sinar matahari
Itulah beberapa faktor yang menyebabkan banyak binatang maupun tumbuhan banyak ditemui di zona ini.


c.       Zona Bathial atau Wilayah Laut Dalam
Setelah ada zona neritik, selanjutnya ada zona bathial. Zona bathial juga disebut sebagai zona laut dalam (baca: fungsi batas kelautan ZEE). Disebut sebagai zona laut dalam karena wilayah zona ini mempunyai kedalaman antara 200 hingga 2000 meter. Karena kedalamannya yang semakin dalam, maka wilayah laut ini tidak dapat ditembus oleh sinar matahari. Oleh karena tidak dapat ditembus oleh sinar matahari, maka zona bathial ini tidak banyak dihuni oleh spesies binatang maupun tumbuhan sehingga tidak seramai zona neritik. Jenis spesies tumbuhan sudah sangat jarang ditemukan di zona ini, namun spesies binatang laut (baik ikan maupun non ikan) masih lumayan banyak.

d.      Zona Abisal atau Wilayah Laut Sangat Dalam
Pembagian laut berdasarkan kedalamannya, yang paling dalam adalah zona abisal. Zona abisal ini merupakam wilayah yang paling dalam dan sangat sangat gelap. Oleh karena merupakan wilayah laut yang paling dalam maka wilayah ini mempunyai kedalaman lebih dari 2000 meter. Karena sangat dalam, maka wilayah ini tidak mendapatkan penyinaran matahari sama sekali sehingga membuat wilayah ini sangat dingin karena mempunyai suhu yang sangat rendah. Karena letaknya yang sangat dalam maka sangat sulit ditemui oksigen di zona ini. dan hal ini  pula yang menjadi penyebab tidak adanya spesies tumbuhan yang kita temukan di zona ini. selain itu, spesies binatang yang dapat hidup di zona inipun juga sangat sedikit. Beberapa binatang yang dapat hidup di zona ini antara lain adalah angler fish. Angler fish merupakan jenis ikan yang dapat menghasilkan cahayanya sendiri untuk dapat berkomunikasi. Selain itu, zona ini juga mempunyai tekanan air yang sangat besar.

9.      Klasifikasi pantai menurut Jhonson (1919)
Klasifikasi pantai menurut Johnson (1919 Vide Thornbury, 1964), berdasarkan genesa dibagi menjadi 4 macam pantai yaitu:
a.       Pantai tenggelam (submergence coast), pantai tenggelam (submergence coast) ini terjadi karena tenggelamnya daratan atau naiknya muka air laut.
Cirri-ciri pantai tenggelam:
-          Di muka pantai ada pulau
-          Garis pantai tidak teratur
-          Teluk dalam
-          Lembah-lembah turun
           Contoh : Pantai Ria (terjadi akibat erosi fluvial)
                          Pantai Fjord (terjadi akibat glasiasi)
b.      Pantai naik (emergence coast), pantai ini terjadi akibat majunya garis pantai atau turunnya muka air laut.
Ciri-ciri pantai naik:
-          Di muka pantai terbentuk undak-undak pantai dan gosong pasir atau tanggul-tanggul.
-          Garis pantai relatif lurus
-          Relief relatif rendah
c.       Pantai netral, adalah pantai yang tidak mengalami penenggelaman atau penurunan.
Ciri-ciri pantai netral:
-          Garis pantai relatif lurus
-          Pantai landai, ombak tidak besar
-          Kadang-kadang terbentuk delta, bila suplai material melimpah
           Contoh: Pantai delta
                         Pantai volkanik
                         Pantai terumbu koral
d.      Pantai campuran (compound)
            Ciri-ciri pantai campuran:
-          Pantai menunjukan undak pantai
-          Lembah tenggelam, akibat turun dan naiknya muka air laut.

10.  Kenampakan hasil erosi dan endapan di pantai
Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak (Setiyono, 1996). Kekuatan abrasi ditentukan oleh besar- kecilnya gelombang yang menghempas ke pantai. Sebagaimana juga halnya erosi sungai, kekuatan daya kikis oleh gelombang dipertajam pula oleh butiran-butiran material batuan yang terkandung bersama gelombang yang terhempas membentur- bentur batuan. Pada pantai yang berlereng terjal dan berbatuan cadas, gelombang mengawali kikisannya dengan membentuk notch, lereng vertikal yang cekung (concave) ke arah daratan (lereng menggantung, overhanging). Bentukan lereng yang cekung ini memberi peluang kerja bagi gaya berat dari batuan di atas (overhanging), dan menjatuhkannya ke bawah. (hallaf, 2006). Adapun bentuklahan yang terbentuk karena peristiwa abrasi antara lain Notch, Cliff , Wave-cut Platform, Sea Cave, Blow Hole, Inlet, Arch dan Stack.

1)   Notch, Cliff dan Wave-cut Platform

Cliff adalah bentuk lereng terjal yang menyerupai dinding; yaitu bagian yang ditinggalkan setelah suatu massa batuan longsor (landslides) oleh gaya beratnya sendiri. Sering, suatu cliff mirip dengan bentuk escarp, tetapi escarp dibentuk sebagai dinding patahan akibat depressi tektonik, sedangkan cliff dibentuk oleh denudasi tektonik.
Sebelum cliff terbentuk, dimulai dengan pembentukan notch yang merupakan hasil pekerjaan gelombang (abrasi). Notch yaitu bentuk cekungan kaki lereng (profil) yang menghadap ke arah laut, pada zona pasang-surut dan garis tengahnya secara horizontal memanjang sejajar dan selevel dengan garis pantai/muka laut di saat pasang.

Contoh notch :

Ada dua tipe cliff. Tipe yang pertama bentuknya tegak atau miring ke belakang. Cliff tipe ini biasanya karena terdiri dari batuan yang relatif lembut, atau struktur geologisnya yang miring ke arah darat. Tipe yang kedua adalah overhanging cliff, suatu bentuk clif yang dinding lerengnya sangat miring atau menonjol ke arah laut. Clif tipe overhanging terbentuk pada formasi batuan yang keras (cadas) dengan struktur (deep) yang miring ke arah laut. Wave-cut platform, adalah bagian dari

pesisir (laut) yang rata pada permukaan batuan dasar (beds rock) yang dibentuk oleh pekerjaan gelombang (Hallaf, 2006).

contoh wave cut platforms:

2)   Sea Cave, Blow Hole dan Inlet

Perbedaan kekerasan batuan; ada batuan yang lembut dan yang lainnya keras, memberi perbedaan dalam kecepatan pengikisan. Bagian-bagian batuan cadas di mana terdapat celah dan rekahan-rekahan seperti jointed, akan lebih cepat terkikis daripada bagian yang tanpa celah atau rekahan.
Sekali gelombang sempat membuat suatu lubang, maka kekuatan atau daya tekanan dari benturan gelombang akan semakin intensif dan efisien terhadap lobang tersebut. Suatu lobang yang berbentuk corong yang mengarah ke arah datangnya gelombang, akan memberi peluang terfokusnya tekanan gelombang untuk memperhebat daya benturannya. Kondisi yang demikian akan lebih dipertajam daya kikisnya bila di dalam gelombang itu termuat butiran-butiran material keras. Makin luas mulut suatu gua di dinding pantai, makin banyak pula massa air gelombang yang membentur ke dalamnya. Tekanan benturan dan pukulan gelombang semacam ini di saat badai mampu menggetarkan (microseismic) dan meremukkan kompleks batuan cadas di sekitarnya. Lambat laun muncratan air menembus hingga ke permukaan tanah di atasnya (headland) dan membentuk blow hole.
contoh blow hole:

seperti dolina di daerah karst. Bentukan blow hole dipercepat oleh, selain benturan langsung gelombang, juga oleh semprotan (muncratan), getaran, pelapukan dari atas dan gravitasi yang menjatuhkan batuan di atasnya. Demikian seterusnya hingga kedua lubang tersebut bukan saja bersambungan dalam bentuk terowongan, tetapi atapnya pun runtuh seluruhnya, disebut inlet atau terusan (Hallaf, 2006)
contoh inlet:
3)   Arch dan Stack
Demikianlah proses suatu gua laut terbentuk hingga menembus ke dinding pantai sebelahnya pada suatu tanjung. Terowongan gua dengan sambungan semacam jembatan alam di atasnya pada ujung tanjung disebut arch. Bila kelak jembatan alam (arch) ini runtuh atau putus, maka bagian ujung tanjung yang ditinggalkan, dengan bentuk pilar raksasa (tugu) disebut stack (Hallaf, 2006).
b.Kenampakan hasil endapan pantai
Adapun bentuk lahan yang terbentuk karena peristiwa sedimentasi antara lain:
1)   Beach
Banyak bahan-bahan yang dikikis dari tanjung-tanjung tidak terbawa keluar dan masuk ke dalam air yag lebih dalam, tetapi dihanyutkan oleh arus pasang yang datang ke bagian head (tanjung) dan sides (sisi) teluk sehingga terbentuk “Bay Head Beach” dan “Bay Side Beach”. The long shore current mengalir, terutama menghindari ketidakberaturan pantai, sehingga mengalir memotong di mulut teluk. Head Land Beach; terbentuk kalau materi-materi itu diendapkan di muka tanjung-tanjung (Hallaf, 2006).
2)   Bars
Bar adalah gosong-gosong pasir penghalang gelombang yang terbentuk oleh endapan dari gelombang dan arus. Bar merupakan bagian dari beach, yang tampak pada saat air surut. Di Tomia disebut “kénté”, orang Maluku menyebutnya “méti”. Bar diberi nama sesuai dengan tempat terjadinya. Bay Mouth Bar ialah bar yang terbentuk dan berpangkal dari tanjung yang satu ke tanjung yang lain di mulut teluk. Arus yang berhasil masuk ke dalam teluk membentuk Bay Head Bar dan Mid Bay Bar. 
Cuspate Bar dan Looped Bar; adalah bar yang berbukit yang juga dibangun oleh arus. Sebuah Cuspate Foreland menyerupai Cuspate Bar, hanya di situ tidak mempunyai lagoon, karena semua materi-materi mengendap membentuk beach. Off Shore Bars yang berbeda-beda di dalam jumlahnya, biasanya hanya merupakan suatu lajur (gosong) pasir yang muncul di atas permukaan laut pada saat laut surut. Di suatu daerah yang luas off shore bars terdiri dari dua atau tiga mil, dipisahkan oleh bukit-bukit pantai (beach ridges) dan bukit-bukit pasir (sand dunes).

A.K.Lobeck berpendapat bahwa material pembentuk spit atau bar berasal dari hasil kerukan gelombang di dasar laut di depan bar itu, dan ditambahkan juga dengan material yang terbawa dari tempat lain oleh arus laut sepanjang pantai di mana erosi cliff aktif bekerja; dan gelombang belum berhasil mencapai daratan di tempat di mana bar itu terbentuk.

G.K.Gilbert telah memikirkan kejadian tersebut. Ia adalah pendukung “Shore-drift Theory”. Tetapi de Beaumont, Davis dan Shaler percaya bahwa material pembentuk bar diangkut dari dasar laut di depan pantai. Johnson berkesimpulan bahwa teori Beaumont dkk dapat diikuti karena memang ternyata bahwa permukaan bar yang mengarah ke laut lebih diperdalam.
Adalah lumrah bila diketemukan dua atau lebih dari dua bars berkembang sejajar dengan pantai. Bars yang lebih dalam terbentuk pertama kali oleh gelombang yang lemah yang dapat maju lebih jauh ke arah (bagian) laut yang lebih dangkal (Hallaf, 2006).

4)   Spit
Biasanya arus yang masuk ke dalam sebuah teluk lebih kuat daripada arus yang keluar menuju ke laut. Akibatnya ujung spit yang pada laut terbuka (pada mulut teluk) menjadi melengkung masuk arah ke teluk. Spit yang demikian disebut “Recurved Spit”. Spit yang melengkung, yang terbentuk pertama, biasanya mempunyai lengkungan yang lebih hebat daripada spit melengkung yang terbentuk berikutnya.
Complex Spit dihasilkan dari perkembangan spit kecil atau spit sekunder yang menumpang pada ujung dari spit yang utama. Cape Cod dan Sandy Hook, kedua-duanya adalah Complex Spit yang sebaik dengan Compound-spit (Hallaf, 2006)

5)   Tombolo
Tombolo ialah bar yang menghubungkan sebuah pulau dengan daratan utama. Tombolo itu ada yang single, double, triple; dan ada pula yang berbentuk huruf “V”, yaitu apabila pulau dihubungkan dengan daratan oleh dua bar. Kompleks tombolo terbentuk bila beberapa pulau dipersatukan dengan yang lain dan dengan daratan oleh sederetan bars (Hallaf, 2006).

6)   Tidal Inlet dan Tidal Delta

Tidal Inlets. Kebanyakan off shore bars (spit) tidak mempunyai sifat yang bersambungan, tetapi diantarai atau diselingi oleh terusan-terusan yang dikenal sebagai “tidal inlets”. Tidal inlets ini merupakan pintu-pintu tempat keluar dan masuknya air laut antara laut bebas dengan lagoon sesuai dengan gerak pasang-surut. Jumlah dan tempat inlets atau teluk-teluk dapat memberi hubungan langsung dengan long shore currents karena arus ini adalah tetap membawa muatan material untuk membangun bars.

Dalam perkembangan lanjut (mature stage), jumlah dari inlets atau teluk-teluk lambat laun bertambah jauh dari lokasi sumber di mana arus memperoleh muatan material. Tidak hanya gelombang-gelombang yang kurang keras untuk memberi arus itu dengan muatan material yang berasal dari runtuhan, tetapi bar itu sendiri yang lebih kecil dan lebih mudah dilalui oleh gelombang dan air pasang.

Pada kebanyakan teluk, lagoon lebih mudah ditumbuhi rumput-rumput rawa. Kondisi ini terjadi karena keadaan yang sesuai dengan kadar garam yang tetap dipertahankan oleh adanya hubungan langsung dengan lautan. Lagoon-lagoon yang besar dan terpisah dari lautan (tanpa inlets), airnya tidak dapat ditumbuhi oleh tumbuhan marine.

Arus pasang-surut yang keluar-masuk pada tidal inlets membawa pasir masuk ke dalam lagoon dan juga pasir ke luar laut. Arus yang masuk itu kemudian mengendapkan material muatannya ke dalam lagoon di mulut inlets dan membentuk

delta; dan disebut “Tidal Delta”. Hampir semua bars menahan sebuah deretan delta yang terbentuk pada sisi dari lagoon.

Bahan-bahan yang tererosi oleh gelombang laut akan diangkut dan diendapkan pada dua bagian kawasan. Sebagian diendapkan ke arah darat (coastal) ketika terjadi swash; dan sebagian lainnya lagi diangkut oleh arus balikan yaitu backwash untuk selanjutnya diteruskan oleh arus kompensasi untuk diendapkan ke bagian dasar yang lebih dalam (Hallaf, 2006).

7)   Beach Ridges
Beach ridge (punggung / bukit-bukit tepi pantai) menggambarkan kedudukan yang dicapai dari majunya garis pantai. Tekanan-tekanan atau depression yang terjadi antara bukit-bukit atau ridges dikenal sebagai Swales, Slashes or furrows. Ridges dan swales dapat terjadi pada sembarang pantai.
Ada tiga cara terbentuknya Beach Ridges ini, yaitu:
a)   Menurut Gilbert, bahan-bahan dari pasir yang dihanyutkan oleh arus dilemparkan oleh gelombang dari arah laut pada sisi-sisi dari beach. Adanya bukit-bukit itu menunjukkan adanya angin ribut yang luar biasa.
b)               Menurut Beaumont dan Davis; materi-materi itu dihanyutkan dari dasar laut, di mana dasar laut telah diperdalam; kemudian ridges itu lebih banyak tergantung pada kekuatan dan keaktifan gelombang.
c)   Sederetan bukit-bukit dapat terbentuk pada ujung dari sebuah Compound recurved spit oleh tambahan dari spit yang berhasil berkembang ke samping – arah ke laut.
d)   Tetapi Johnson mempertahankan bahwa Beach Ridge tidaklah selalu dapat dikorelasikan dengan individu angin badai. Beach Ridge lebih banyak berfluktuasi dalam jumlah pasir yang dibawa oleh long shore current; yang harus diperiksa adalah ada tidaknya erosi gelombang pada tempat-tempat yang lain. Di mana terdapat persediaan materi yang berlimpah, beach ridge dapat bertambah dengan cepat, terutama pada ujung Recurved spit. Dalam 23 tahun, ada 5 (lima) ridges terbentuk pada ujung dari Rockway Beach, dekat New York City. Ujung spit bertambah kurang lebih 200 kaki dalam setahun (Hallaf, 2006)

Newer Posts Home

ABOUT AUTHOR

Hello everyone!!
as you know my name in the header
you can call me Atar,I'm 19 YO and I'm Student at University of Jendral Soedirman.
I hope you are satisfied with the knowledge that I share

POPULAR POSTS

  • BATUAN SEDIMEN KIMIAWI DAN ORGANIK
     Pengertian Batuan Karbonat, Batuan Evaporit, dan Batuan Organik (Batubara) dan contohnya (3)  Batuan sedimen organik karbonat ada...
  • SUNGAI & PANTAI
    1.       Pengertian Sungai dan tahapan perkembangan sungai Sungai atau kali (In...
  • KEKAR & SESAR
    A.                 Pengertian Kekar Kekar adalah struktur retakan/rekahan terbentuk pada batuan akibat suatu gaya yang bekerja pada ...
  • GUNUNG API
    1.1. Pengertian Gunung Api Menurut Bates and Jackson (1987), gunungapi adalah suatu jalan keluar atau lubang permukaan bumi yang d...

Advertisement

FOLLOW ME @atharianugerah1892

About Me

Popular Posts

  • BATUAN SEDIMEN KIMIAWI DAN ORGANIK
     Pengertian Batuan Karbonat, Batuan Evaporit, dan Batuan Organik (Batubara) dan contohnya (3)  Batuan sedimen organik karbonat ada...
  • SUNGAI & PANTAI
    1.       Pengertian Sungai dan tahapan perkembangan sungai Sungai atau kali (In...
  • KEKAR & SESAR
    A.                 Pengertian Kekar Kekar adalah struktur retakan/rekahan terbentuk pada batuan akibat suatu gaya yang bekerja pada ...

Advertisement

Copyright © 2016 ATHARI ANUGERAH KELANA. Created by OddThemes